Jenis pengobatan impotensi bergantung pada penyebabnya. Berikut beberapa jenis pengobatan untuk impotensi :
1. Teknik Pemusatan Sensasi 3 tahap
Jika impotensi disebabkan oleh masalah psiskis ada latihan khusus untuk mengatasinya. Latihan khusus tersebut disebut teknik pemusatan sensai 3 tahap. Teknik ini mendorong hubungan intim dan kehangatan emosional yang lebih menitikberatkan pada membangun sebuah hubungan. Teknik tersebut adalah sebagai berikut :
a. Tahap I : bercumbu, pasangan berkonsentrasi untuk menyenangkan satu sama lain tanpa menyentuh daerah kemaluan.
b. Tahap II : pasangan mulai menyentuh daerah kemaluan atau daerah erotis lainnya tetapi belum melakukan hubungan badan.
c. Tahap III : melakukan hubungan badan.
Masing-masing mencapai kenyamanan pada setiap tahap keintiman sebelum berlanjut ke tahap selanjutnya. Jika teknik tersebut tidak berhasil, mungkin penderita perlu menjalani psikoterapi atau terapi perilaku seksual.
2. Psikoterapi atau terapi perilaku seksual
Jika penderita impotensi mengalami depresi bisa diberikan obat antidepresi. Sildenafil adalah salah satu jenis obat kimia yang diberikan dengan resep dokter, obat tersebut bisa meningkatkan aliran darah ke penis. Obat ini diminum 30-60 menit sebelum melakukan hubungan seksual. Kegunaan obat ini hanya efektif jika diserati dengan gairah seksual. Obat ini tidak boleh diminum bersamaan dengan nitrat karena bisa menimbulkan efek samping yang serius.
3. Terapi Sulih Hormon
Jika impotensi atau hilangnya gairah seksual terjadi akibat kadar testosteron yang rendah, penderita sebaiknya menjalani terapi sulih hormon.
Testosteron disuntikkan setiap minggu atau diberikan dalam bentuk plester. Efek samping terapi sulih hormon adalah pembesaran prostat dan kelebihan sel darah merah yang bisa menyebabkan stroke.
4. Penggunaan alat tambahan
Alat pengikat atau penghisap sering kali digunakan untuk mencapai dan mempertahankan ereksi, tetapi alat ini tidak boleh digunakan oleh penderita gangguan perdarahan atau penderita yang mengkonsumsi obat antikoagulan.
Alat pengikat (berupa tali atau cincin yang terbuat dari logam, karet atau kulit) dipasang didasar penis untuk memperlambat aliran darah dari penis. Alat pengisap (berupa kotak berongga dan pompa) dipasang pada penis. Tekanan hampa udara membantu pengaliran darah ke dalam arteri penis. Ketika penis ereksi, sebauh alat pengikat dipasang untuk mencegah pengaliran darah dari vena. Kombinsai kedua alat tersebut bisa mempertahankan ereksi selama 30 menit.
Kadang-kadang alat pengikat menyebabkan masalah ketika ejakulasi, terutama jika diikat terlalu ketat. Demi keamanan, sebaiknya setelah 30 menit alat tersebut dilepaskan. jika terlalu sering digunakan, alat pengisap bisa menimbulkan memar.
5. Suntikan obat khusus
Impotensi juga bisa diobati dengan suntikan obat khusus yang dilakukan sendiri oleh penderita. Obat ini disuntikkan langsung ke dalam jaringan erektil pada penis (korpus kavernosus). Ereksi terjadi dalam waktu 5-10 menit setelah obat disuntikkan dan bisa bertahan selama 60 menit. Efek sampingnya adalah memar dan sakit. Selain itu, penyuntikan juga bisa menyebabkan priapisme (ereksi yang menetap dan nyeri).
6. Pencangkokan penis
Jika impotensi tidak memberikan respons terhadap berbagai pengobatan diatas, bisa dilakukan pencangkokan penis atau digunakan prostese (penis buatan). Salah satu alat yang dicangkokkan berupa batang kekar yang dimasukkan ke dalam penis untuk menimbulkan ereksi yang menetap. Alat lainnya berupa balon yang dimasukkan ke dalam penis dan ditiup sebelum penderita melakukan hubungan seksual.